Sabtu, 13 Maret 2010
BINJAI-Sidang kasus dugaan korupsi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtasari Binjai kembali digelar di Pengadilan Negri (PN) Binjai kemarin (12/3). Sidang yang sampai kemarin masih beragenda mendengarkan keterangan saksi, tak mustahil bakal menyeret Ali Umri.
Dalam sidang kali ini, JPU menghadirkan tiga orang saksi masing-masing, Sugeng, Kepala Bagian tehnis di PDAM Tirtasari, Aminuddin Tam, mantan Dirut PDAM Tirtasari dan Mahyulis, ajudan Ali Umri.
Dari ketiga saksi yang dihadirkan JPU, saksi yang pertama kali dimintai keterangan oleh majleis hakim yakni Sugeng. Menurut keterangan Sugeng di persidangan, proyek PDAM Tirtasari Kota Binjai yang mengerjakannya adalah dia sendiri selaku Kabag tehnis dan menerima uang dari Walikota Binjai untuk mengerjakan proyek tersebut.
“Saya dan pak Amirudintam pernah ke rumah Pak Wali (Ali Umri) di kampung Durian, Kecamatan Binjai Utara. Ternyata saya disuruh mengerjakan proyek tersebut dan saya diberikan uang untuk mengerjakannya,” ujarnya.
Setelah mendapat tanggung jawab untuk mengerjakan proyek peningkatan kapasitas air dan rehabilitasi settler, akhirnya Sugeng mengerjakan dua proyek di PDAM Tirtasari itu. “Kalau saya tidak salah saya mengerjakannya di bulan Juni 2006 lalu, dan proyek itu saya kerjakan sampai selesai,” jelasnya.
Dikatakan Sugeng, selama pengerajan proyek dilakukan, uang untuk mengerjakannya diambil dari Mahyulis sebanyak tiga kali dan Amirudintam dua kali, “Uang dari mereka itu sebenarnya dari Pak Wali. Jadi, jumlah uang yang saya terima dari Pak Wali untuk mengerjakan proyek, sebanyak Rp606.500.0000. Masalah anggaran untuk proyek tersebut saya tidak tahu, yang jelas saya hanya diberikan sebesar itu. Dana yang habis sekitar Rp442 juta,” ungkapnya.
Usai mendengarkan keterangan Sugeng, saksi selanjutnya Amirudintam selaku mantan Dirut PDAM Tirtasari tahun 2006-2008. Namun, Amirudintam tak banyak mengetahui perihal proyek tersebut. “Memang saya pernah ke rumah Pak Wali. Jadi kata Pak Wali, siapa orang kamu yang mengusai tehnis? Saya bilang Sugeng, sebab dia memang bagian tehnis. Kemudian saya memanggil Sugeng dan Sugeng disuruh mengerjakan proyek tersebut,” ucap Amirudintam.
Selain itu, Amirudintam juga mengaku pernah memberikan uang kepada Sugeng dari Pak Wali untuk kebutuhan kerja. “Saya juga tidak tahu apa kaitannya proyek itu dengan Pak Wali, yang jelas saya memang pernah memberikan uang kepada Sugeng dari Pak Wali untuk kebutuhan kerja. Ada 2 kali Pak Wali memberikan uang kepada kami. Uang itu untuk kegunaan apa saya nggak tau, nggak tau berapa jumlahnya karena uang itu diikat dan dalam bungkusan tertutup,” ungkapnya seraya berkata setelah proyek itu selesai air PDAM Tirtasari terlihat lebih bagus.
Lain halnya dengan Mahyulis, Wakil Ketua Gapensi Kota Binjai yang juga ajudan Ali Umri selaku Ketua Partai Golkar. Menurut Mahyulis, dia memang pernah memberikan cek kepada Sugeng, tapi ia sudah lupa berapa besaranya, “Memang benar saya ada memberikan cek kepada Sugeng atas perintah Pak Wali, tapi saya sudah lupa besarannya,” kata Mahyulis.
Ketika majelis hakim, Saut Pasaribu SH, bertanya kenal atau tidak dengan Sentot Prawira Dirja (terdakwa) dan Rajudin (terdakwa), Mahyulis mengaku mengenalinya. “Saya kenal dengan Sentot sering ketemu, dia kan sekretaris Gapensi Kota Binjai. Kalau Sofyan Pardede pernah menjadi supir pribadi Pak Wali, kemudian diangkat menjadi Dirut CV Rezeki,” terangnya.
Namun, dalam proyek tersebut, CV Karya Rezeki diketahui dirutnya Sentot Prawira Dirja. Belakangan diketahui, Sentot meminjam CV Karya Rezeki. Kemudian Saut kembali bertanya, apakah sudah lazim di proyek untuk meminjam CV?. “Ya, hal seperti itu memang sudah lazim,” kata Mahyulis.
Anehnya, saat sidang masih berlanjut untuk terdakwa Ucok Khaidir, Mahyulis malah menghilang. JPU sempat kebingungan dan bolak-balik menelpon Mahyulis. Bahkan, saat ditelpon berulang kali, Mahyulis tidak menjawab. Hingga akhirnya sidang disekor selam 10 menit.
Setelah JPU mencoba untuk menghubunginya lagi, akhirnya Mahyulis menjawab dan mengatakan, masih di jalan, “Saya tidak tahu kalau masih ada sidang lagi, makanya saya pulang sebantar, bahkan saya sudah mau ke Kota tadi,” kata Mahyulis.
Usai mendengar keterangan tiga orang saksi yang dihadirkan JPU, ketua Majelis Hakim, Saut Pasaribu SH, sedikit bingung. Sebab, ketiga saksi menyebut-nyebut nama Walikota Binjai. Sehingga Saut Pasaribu, meminta JPU untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk memanggil Walikota Binjai. Tapi itu dilakukan setelah saksi-saksi lainnya dipanggil termausk Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Binjai, Ir Elvi Kristina.
Dengan demikian, sidang kasus dugaan korupsi PDAM Tirtasari Kota Binjai yang menelan biya sebesar Rp1,1 milyar tersebut akhirnya ditunda dan akan dilanjutkan pada hari Kamis (18/3)mendatang dengan menghadirkan lima orang saksi.
Sementara itu, FKJ Sembiring, selaku JPU saat dikonfirmasi mengaku, akan membuat surat pemanggilan Walikota Binjai, jika majelis hakim nantinya benar-benar untuk mengingikannya, “Kita tunggu saja keinginan majelis hakim, kalau memang benar-benar diminta untuk menghadirkan, akan kita hadirkan,”ujar FKJ Sembiring.(aswin/smg)

Cetak Berita Ini
Berikan 
Tanggapan
Sumber: Posmetro Medan