BINJAI-FENOMENA patung Dewi Kwan Im menangis juga pernah terjadi di Kota Binjai pada 1971 silam. Tak lama setelah peristiwa gaib tersebut, Kota Rambutan itu dilanda banjir besar.
Peristiwa lampau itu diutarakan Udin (48), warga yang tinggal di perkampungan etnis Tionghoa atau disebut juga Kampung Tanjung Binjai. Patung sakral yang menangis kala itu, berada di Kel Pahlawan Binjai.
“Dalam peristiwa banjir itu, ada beberapa warga yang tewas. Karena pada saat itu, kapal yang digunakan untuk evakuasi korban banjir menghantam Titi Limau Sundai hingga terbalik,” beber Udin.
Kata Udin, karena trauma peristiwa 1971 itulah yang membuat warga begitu heboh dengan kembali munculnya patung Dewi Kuan Im menangis di rumah Avin awal pekan lalu.
Apalagi lanjut Udin, banjir besar Binjai yang terjadi di waktu lampau sangat mengkhawatirkan banyak warga. Sebab air besar yang datang dari gunung, tiba-tiba menghantam pemukiman.
“Kurasa yang tewas namanya Raden Yusuf. Dia dikabarkan tenggelam karena kapalnya menghantam Titi Limau Sundai,” kata Udin yang mengaku tak tahu di mana kini keberadaan patung sakral yang menangis 1971 itu.
Pihak Vihara Dewi Kwan Im saat akan dikonfirmasi terkait cerita masyarakat itu, tidak bersedia memberikan keterangan mendetail. Alasannya, mereka sedang mengadakan kegiatan internal keagamaan.
“Kita nggak bisa menceritakannya sembarangan. Nanti disalahartikan, bisa gawat jadinya. Karena kami di sini ada humas bagian luar yang khusus menerangkan permasalahan itu. Tapi saat ini kebetulan kita ada kegiatan internal keagamaan di Vihara, jadi kita nggak bisa menjelaskan secara detail tentang semua cerita mengenai patung Dewi Kwan Im ini,” terang salah seorang pengurus yang namanya enggan dikorankan.
Apakah tangisan patung Dewi Kwan Im ada kaitannya dengan suhu politik Binjai yang sedang memanas? Pengurus Vihara itu juga tak mau berkomentar. “Oh kita nggak ada membahas permasalahan politik di sini. Kita di sini hanya bersifat keagamaan,” terangnya.
Terpisah Avin (25) warga Jl Anggur, Kel Bandar Senembah, Kec Binjai Barat menyebutkan, patung Dewi Kwan Im yang ada di dalam rumahnya berusia puluhan tahun. Bahkan digunakan turun temurun sebagai patung yang disembah.
Saat membeli, lelehurnya tidak sembarangan. Harus atas petunjuk suhu yang kemudian dijampi-jampi. “Aku sendiri nggak begitu tau. Karena sudah ada sejak aku kecil,” terang Avin yang rumahnya masih saja diramaikan orang-orang yang ingin menyaksikan langsung, meski tak seramai di awal patung itu diketahui menangis.(aswin)

Sumber:Posmetro Medan