BINJAI-PATUNG Dewi Kwan Im menangis yang menghebohkan masyarakat Kota Binjai Selasa (8/12) lalu, mendapat penafsiran berbeda-beda dari berbagai kalangan. Ada yang yakin, tapi tak sedikit pula yang ragu. Percaya tak percaya, fenomena gaib ini sudah berulang kali terjadi di berbagai belahan dunia.
Mereka yang yakin mengaku cemas, peristiwa itu bakal jadi pertanda buruk bagi dunia, terutama Kota Binjai. “Kami dengar, memang kejadian ini dulu pernah terjadi. Setelah patung Dewi Kwan Im itu menangis kemudian beberapa waktu kemudian terjadi tsunami. Karena cerita itulah makanya kami ingin menyaksikan langsung,” ujar beberapa warga yang berjubel di sekitaran rumah Avin.
Namun tak sedikit dari mereka yang takut, musibah bakal terjadi pasca fenomena gaib itu. “Ini kan sesuatu yang langka. Bisa saja karena manusia sekarang lupa diri sehingga pencipta menunjukkan keajaibannya melalui benda-benda seperti itu,” sebut satu persatu warga yang ditemui POSMETRO MEDAN.
Namun sejumlah tokoh agama perkumpulan umat Tao Kota Binjai, secara rasional mereka mengaku meragukan kebenaran peristiwa itu. Namun mereka tak berani tegas membantah benar tidaknya fenomena gaib itu.
Guna mencari tahu jawabannya, para pemuka agama umat Budha itu langsung datang mencari kebenaran tentang patung suci di rumah Avin alias Usman (25) di Jl Anggur, Kel Bandar Senembah, Kec Binjai Barat, Rabu (9/12) lalu sehari setelah tersiar heboh.
Pantauan POSMETRO MEDAN, beberapa tokoh agama Budha Kota Binjai yang meninjau langsung lokasi tersebut, mengaku menemukan beberapa kejanggalan. Menurut Pembina Masyarakat Budha Kota Binjai, Sugiarto mengaku tak menemukan tanda-tanda bekas air membasahi sekitar tempat patung sakral di tempat sembahyang itu.
“Kita telah terjun langsung mengecek yang dikabarkan media masa. Kita hanya meluruskan apa yang terjadi, agar jangan sampai nantinya kejadian itu dipolitisir oleh orang yang tak bertanggung jawab,” kata Sugiarto.
Sebab, lanjut dia, jika dipolitisir tentu dapat merusak tatanan kerukunan antar umat beragama. Namun Sugiarto tak berani menyebutkan peristiwa itu direkayasa. “Kalau itu memang benar terjadi, merupakan sesuatu hal yang ajaib,” katanya.
Masih sebut Sugiarto, jika benar terjadi, dia mengajak semua umat untuk dapat semakin mengintrospeksi diri. “Namun yang tidak kita inginkan, sesuatu yang sakral dan suci malah disalahartikan. Apalagi kita tidak melihat adanya unsur air yang keluar dari mata patung Dewi Kwan Im itu. Kalau memang air, pasti membasahi sekitar patung. Tapi yang kita lihat, tidak ada. Kita mau meluruskan agar jangan salah,” ungkap Sugiarto.
Masih ujar Sugiarto, sesuai keyakinannya umat Budha berdoa kepada patung Dewi Kwan Im yang suci. Namun katanya, jangan sampai nantinya apa yang diyakini itu jadi menyimpang dari ajaran sebenarnya.
“Seperti membuat kotak amal karena orang datang melihat, itu tidak boleh. Atau jangan pula nantinya timbul dugaan berbagai kalangan agar tempat itu dijadikan kelenteng, kita tidak menginginkan hal itu terjadi,” ujarnya.
Sementara, Ketua Perhimpunan Indonesia Tionghoa (INTI) dan juga Ketua Perkumpulan Umat Tao Kota Binjai, Dr Sadikun Winato saat ditemui di Vihara Setia Budha Binjai menolak peristiwa itu diartikan dewa sedang menangis.
Menurutnya, umat Budha yang baik harus dapat mengerti patung Dewi Kwan Im adalah Dewa yang suci. “Kalau kita anggap patung itu sebagai Dewa yang menangis, itu tidak benar. Itu merupakan pelecehan terhadap Dewa. Tidak bisa dipermainkan,” tandas Sadikun.
Sementara itu sampai Rabu (9/12), lokasi rumah Avin masih didatangi sejumlah warga yang ingin menyaksikan patung Dewi Kwan Im menangis itu. Namun warga terpaksa sedikit kecewa dikarenakan pagar rumah tersebut tutup hingga tak dapat melihat langsung.
Hanya saja kemarin (10/12), keluarga Avin tak lagi membuka pintu bagi warga yang ingin melihat. Mereka menutup rapat-rapat pintunya dan tak dapat dimintai keterangan.(aswin)

 

Sumber:Posmetro Medan