BINJAI-Komite Pemilihan Umum Kota Binjai menetapkan dan mengumumkan 30 nama Anggota DPRD terpilih Kota Binjai melalui rapat pleno yang dipimpin langsung Ketua KPU, Herry Dani. Rapat tersebut tidak dihadiri tiga perwakilan, yakni Partai Bulan Bintang (PBB), Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI). 

Rapat tampak dihadiri empat anggota KPUD Binjai, yakni H Labayk Simanjorang, Rafli Surbakti, Chaisal Anduo dan Zulfan Effendi serta Panwaslu Binjai. Kepada FokusRiau.Com, Rabu (15/5) siang, Herry menyebutkan, untuk Dapil I Binjai Kota dan Binjai Barat antara lain, yakni dr Edy Setepu(NasDem), Ari Amjah Surbakti (PKS), H Noor Sri Alam Putra ST (Golkar), Ambi Suswandi Buana S ST (Gerindra), Njoreken dan HM Sajali(Demokrat), Hj. Ema Gata (PAN),  atas nama H Antasari Lubis Spdi (PPP) dan Elmita (Hanura).

Untuk Dapil II yang meliputi Binjai Utara yakni Partai Drs Tengku Matsah (NasDem), Drs Sharjo Muliono (PKS), Gim Ginting (PDIP), HM Yusup SH MHum (Golkar), Hj Juliati SE (Gerindar), H Ahmad Hasian Siregar (Demokrat), Rudi Alfarhri Rangkuti SH MH (PAN), Faisal Umri SE (PPP), dan Irfan Ahmadi SH (Hanura).

Sementara untuk Dapil III Binjai Timur, Ir M Syarif Setepu (PDIP),  Hj Norasiah SE bersama Hj K.Gusuartini br Surbakti (Golkar), Drs H Saidi Susiono Msi (Gerindra), Ardiansyah  Putra SE (Demokrat), dan Jonita Agina Bangun dari Partai Hanura.

Sedangkan untuk Dapil IV Binjai Selatan yakni Deni Surianto (NasDem), M Atan (PDIP), Zainuddin Purban SH (Golkar), Agus Supriantono (Gerindra), Irfan Asriadi S Kom (PAN), dan Irwansyah Putra Pohan (PPP). “Sampai saat ini semua caleg yang bertarung pada pemilihan kemarin belum ada yang menyampaikan keberatannya atas keppputusan yang sudah di tetapkan. Dan rapat kemarin berjalan lancar, aman dan tertib,” kata Herry di Binjai. (man) – See more at: http://fokusriau.com/berita-kpu-kota-binjai-tetapkan-30-anggota-dprd-terpilih.html#sthash.VVVgmJo9.dpuf

Senin, 18 Oktober 2010
Diduga kuat terlibat dalam kasus penyerangan rumah Dewan Penasehat Laskar Merah Putih (LMP), Nelson Sembiring, di Jl. Barakuda, Gang Katok Binjai Selatan, saat acara berbuka puasa bersama, Minggu (22/8) lalu. Polresta Binjai telah mengeluarkan surat panggilan terhadap ZP alias UJ, seorang oknum anggota Dewan Perwakilan Rakyat Derah (DPRD) Binjai.

Dalam Surat panggilan itu No.Pol.S.PGL/978/X/2010/Reskrim tersebut, ZP alias UJ diminta hadir untuk menjalani pemeriksaan sebagai saksi oleh penyidik Polresta Binjai. Ketika dikonfirmasi ke Kaporesta Binjai, AKBP Rina Ginting membenarkan tentang surat panggilan itu. “Iya sudah dilayangkan surat panggilan itu ke oknum anggota DPRD itu,” jelasnya pada wartawan, Sabtu (16/10). Sekedar mengingatkan dalam penyerang sekelompok warga bersenjata tajam yang jumlahnya diperkirakan seratusan orang, di rumah Nelson Sembiring, dua orang oknum TNI mengalami luka sabetan senjata tajam. Nelson sendiri ketika itu, selamat dari penyerangan, tetapi, mobil dan rumahnya rusak karena amukan orang tidak dikenal itu. (int/deo)

BINJAI-Ketua Komisi Pemilihan Umum Daerah (KPUD) Kota Binjai, Agus Susanto SH, MHum mengumumkan 9 Balon yang lolos verikasi Calon Walikota Binjai 2010-2015 di kantornya Jl. Gatot Subroto, Kec. Binjai Barat, Jumat (12/3).
Pasangan yang dimaksud adalah Nazri Kamal-Lasiono, Ayub Syaiful-Adi Wijaya, Helman Herdady-M Rasyidin, Edy Aswari-Ahmad Murlan, Abdul Ghani Sitepu-Ajie Karim, Syamsul Arifin-Abdi Nusa Tarigan (keenamnya dari independent). Sedangkan tiga pasangan lainnya berasal dari partai adalah Dhani Setiawan-Meutya Hafidz, M Idaham-Timbas Tarigan, Zefri Januar Pribadi-Baskami Ginting.
Mengenai harta kekayaan para peserta, KPU telah menerima surat serah terima penyerahan berkas ke KPK Jakarta. Terkait nomor urut peserta, KPU akan menggelar pengundian di pendopo Umar Baki Jl. Veteran, Kec. Binjai Kota, Minggu (14/3) nanti sekira pukul 09.30.
“Seluruh pasangan calon dan Muspida akan kita undang ke pendopo, untuk menyaksikan langsung penetapan nomor urut. Terkait belum terbentuknya Panwas, kita telah menyerahkan persoalan tersebut ke DPRD Binjai melalui perintah KPU Pusat,” terang Wakil Ketua KPUD Binjai, Heri. (aswin)

Cetak Berita Ini

Sabtu, 13 Maret 2010
BINJAI-Meski Acio (20) mengaku hanya sekali mencabuli Mawar, namun masa depan bocah yang masih duduk di bangku SD itu sudah dirusaknya. Lajang keturunan Tionghoa ini terpaksa mendekam di penjara Polres Binjai atas perbuatannya itu.
Mawar dan abangnya tinggal di rumah ompungnya yang menetap di Kelurahan Percukaian, Kecamatan Binjai Utara. Sementara, orangtua mereka tetap tinggal di kampung, di Simalungun. Ekonomi pas-pasan dan kehidupan yang sulit membuat ortu mereka menitipkan anak-anaknya agar mencapai pendidikan yang layak.
Acio tetangga ompung Mawar. Sedikit banyaknya lelaki ini mengetahui seluk beluk keluarga itu. Dia juga tahu kalau Mawar jarang diberi uang jajan. Mawar juga sering dipukuli abangnya.
Dia mengetahui hal itu karena Mawar sering curhat padanya. Cewek berusia 11 tahun ini sudah menganggap Acio seperti abangnya sendiri. Terkadang Mawar meminta uang pada Acio untuk jajannya di sekolah. Semula Acio tak berniat jahat pada Mawar.
Namun sebulan lalu, Acio yang lagi duduk-duduk di depan rumahnya didatangi Mawar. Gadis ini meminta uang jajan padanya. Entah kenapa timbul gairah Acio untuk menggauli bocah perempuan itu. Dia lalu memberi uang Rp10 ribu pada Mawar dan mengajaknya masuk ke dalam warung yang sudah lama tak digunakan lagi. Acio tahu kalau siang hari, ompung Mawar tidur dan abang Mawar masih berada di sekolah.
Tak mengetahui akal bulus Acio, Mawar menurut aja. Di sana, Acio meminta pada anak tetangganya itu agar membuka celana.
‘’Aku hanya menggesek-gesek kemaluanku, tapi tak kumasukkan. Perbuatan itu hanya sekali kulakukan,’’dalih Acio di kantor polisi.
Meski Acio membantah memperkosa Mawar. Namun kemaluan gadis cilik itu bengkak. Setiap kali buang air kecil, dia selalu meringis kesakitan. Hal itu yang jadi penyebab terungkapnya perbuatan cabul Acio. Tak sanggup menahan sakit, akhirnya Mawar mengadu pada ompungnya kalau dia dicabuli Acio.
Walau sempat kaget, namun ompung Mawar tak mau bertindak gegabah. Diam-diam kasus itu dilaporkan ke Polres Binjai. Acio diciduk petugas dari rumahnya. Meski Acio sudah dipenjara, namun pencabulan yang dilakukannya merupakan bayang-bayang kelam dalam kehidupan Mawar kelak.
Pjs Kapolresta Binjai, Kombes Verdianto Biticaca melalui Kasat Reskrim AKP Adenan yang dikonfirmasi POSMETRO MEDAN menyatakan, tersangka dapat dijerat UU Perlindungan anak. (aswin)

Cetak Berita Ini
Berikan 
Tanggapan

Sabtu, 13 Maret 2010
BINJAI-Sidang kasus dugaan korupsi Perusahaan Daerah Air Minum (PDAM) Tirtasari Binjai kembali digelar di Pengadilan Negri (PN) Binjai kemarin (12/3). Sidang yang sampai kemarin masih beragenda mendengarkan keterangan saksi, tak mustahil bakal menyeret Ali Umri.
Dalam sidang kali ini, JPU menghadirkan tiga orang saksi masing-masing, Sugeng, Kepala Bagian tehnis di PDAM Tirtasari, Aminuddin Tam, mantan Dirut PDAM Tirtasari dan Mahyulis, ajudan Ali Umri.
Dari ketiga saksi yang dihadirkan JPU, saksi yang pertama kali dimintai keterangan oleh majleis hakim yakni Sugeng. Menurut keterangan Sugeng di persidangan, proyek PDAM Tirtasari Kota Binjai yang mengerjakannya adalah dia sendiri selaku Kabag tehnis dan menerima uang dari Walikota Binjai untuk mengerjakan proyek tersebut.
“Saya dan pak Amirudintam pernah ke rumah Pak Wali (Ali Umri) di kampung Durian, Kecamatan Binjai Utara. Ternyata saya disuruh mengerjakan proyek tersebut dan saya diberikan uang untuk mengerjakannya,” ujarnya.
Setelah mendapat tanggung jawab untuk mengerjakan proyek peningkatan kapasitas air dan rehabilitasi settler, akhirnya Sugeng mengerjakan dua proyek di PDAM Tirtasari itu. “Kalau saya tidak salah saya mengerjakannya di bulan Juni 2006 lalu, dan proyek itu saya kerjakan sampai selesai,” jelasnya.
Dikatakan Sugeng, selama pengerajan proyek dilakukan, uang untuk mengerjakannya diambil dari Mahyulis sebanyak tiga kali dan Amirudintam dua kali, “Uang dari mereka itu sebenarnya dari Pak Wali. Jadi, jumlah uang yang saya terima dari Pak Wali untuk mengerjakan proyek, sebanyak Rp606.500.0000. Masalah anggaran untuk proyek tersebut saya tidak tahu, yang jelas saya hanya diberikan sebesar itu. Dana yang habis sekitar Rp442 juta,” ungkapnya.
Usai mendengarkan keterangan Sugeng, saksi selanjutnya Amirudintam selaku mantan Dirut PDAM Tirtasari tahun 2006-2008. Namun, Amirudintam tak banyak mengetahui perihal proyek tersebut. “Memang saya pernah ke rumah Pak Wali. Jadi kata Pak Wali, siapa orang kamu yang mengusai tehnis? Saya bilang Sugeng, sebab dia memang bagian tehnis. Kemudian saya memanggil Sugeng dan Sugeng disuruh mengerjakan proyek tersebut,” ucap Amirudintam.
Selain itu, Amirudintam juga mengaku pernah memberikan uang kepada Sugeng dari Pak Wali untuk kebutuhan kerja. “Saya juga tidak tahu apa kaitannya proyek itu dengan Pak Wali, yang jelas saya memang pernah memberikan uang kepada Sugeng dari Pak Wali untuk kebutuhan kerja. Ada 2 kali Pak Wali memberikan uang kepada kami. Uang itu untuk kegunaan apa saya nggak tau, nggak tau berapa jumlahnya karena uang itu diikat dan dalam bungkusan tertutup,” ungkapnya seraya berkata setelah proyek itu selesai air PDAM Tirtasari terlihat lebih bagus.
Lain halnya dengan Mahyulis, Wakil Ketua Gapensi Kota Binjai yang juga ajudan Ali Umri selaku Ketua Partai Golkar. Menurut Mahyulis, dia memang pernah memberikan cek kepada Sugeng, tapi ia sudah lupa berapa besaranya, “Memang benar saya ada memberikan cek kepada Sugeng atas perintah Pak Wali, tapi saya sudah lupa besarannya,” kata Mahyulis.
Ketika majelis hakim, Saut Pasaribu SH, bertanya kenal atau tidak dengan Sentot Prawira Dirja (terdakwa) dan Rajudin (terdakwa), Mahyulis mengaku mengenalinya. “Saya kenal dengan Sentot sering ketemu, dia kan sekretaris Gapensi Kota Binjai. Kalau Sofyan Pardede pernah menjadi supir pribadi Pak Wali, kemudian diangkat menjadi Dirut CV Rezeki,” terangnya.
Namun, dalam proyek tersebut, CV Karya Rezeki diketahui dirutnya Sentot Prawira Dirja. Belakangan diketahui, Sentot meminjam CV Karya Rezeki. Kemudian Saut kembali bertanya, apakah sudah lazim di proyek untuk meminjam CV?. “Ya, hal seperti itu memang sudah lazim,” kata Mahyulis.
Anehnya, saat sidang masih berlanjut untuk terdakwa Ucok Khaidir, Mahyulis malah menghilang. JPU sempat kebingungan dan bolak-balik menelpon Mahyulis. Bahkan, saat ditelpon berulang kali, Mahyulis tidak menjawab. Hingga akhirnya sidang disekor selam 10 menit.
Setelah JPU mencoba untuk menghubunginya lagi, akhirnya Mahyulis menjawab dan mengatakan, masih di jalan, “Saya tidak tahu kalau masih ada sidang lagi, makanya saya pulang sebantar, bahkan saya sudah mau ke Kota tadi,” kata Mahyulis.
Usai mendengar keterangan tiga orang saksi yang dihadirkan JPU, ketua Majelis Hakim, Saut Pasaribu SH, sedikit bingung. Sebab, ketiga saksi menyebut-nyebut nama Walikota Binjai. Sehingga Saut Pasaribu, meminta JPU untuk menyiapkan segala sesuatunya untuk memanggil Walikota Binjai. Tapi itu dilakukan setelah saksi-saksi lainnya dipanggil termausk Kepala Dinas Pekerjaan Umum (PU) Kota Binjai, Ir Elvi Kristina.
Dengan demikian, sidang kasus dugaan korupsi PDAM Tirtasari Kota Binjai yang menelan biya sebesar Rp1,1 milyar tersebut akhirnya ditunda dan akan dilanjutkan pada hari Kamis (18/3)mendatang dengan menghadirkan lima orang saksi.
Sementara itu, FKJ Sembiring, selaku JPU saat dikonfirmasi mengaku, akan membuat surat pemanggilan Walikota Binjai, jika majelis hakim nantinya benar-benar untuk mengingikannya, “Kita tunggu saja keinginan majelis hakim, kalau memang benar-benar diminta untuk menghadirkan, akan kita hadirkan,”ujar FKJ Sembiring.(aswin/smg)

Cetak Berita Ini
Berikan 
Tanggapan
Sumber: Posmetro Medan

BINJAI-Meriance br Sinaga (21) mahasiswi Budidaya Binjai fakultas Bahasa Indonesia menghilang dari rumah sejak Sabtu (6/2) dua minggu lalu. Anak petani ini diduga diculik pria yang baru dikenalnya di Facebook. Cewek berwajah cantik ini sempat menelpon ayahnya sambil menangis. Ia sempat mengaku berada di Aceh bersama 4 orang wanita.
Meriance br Sinaga alias Ance tinggal di Jl Danau Meninjau Lingk IX, Kel Sumber Mulyo Rejo, Kec Binjai Timur. Kata ayah dan ibunya; Binsar Sinaga (51) dan Reliani Br Sianturi (50), anak ke empatnya dari lima bersaudara itu menghilang setelah berangkat kuliah, Sabtu (6/2) sekira pukul 16.00 Wib ke Kampus Budidaya Binjai di Jl T Amir Hamzah Pasar IV Kel Jati Makmur, Binjai Utara. Ditunggu sampai Minggu dinihari, Ance tak juga pulang ke rumah. Ayah dan ibunya pun panik dan mencari Ance ke rumah sanak keluarganya. Namun Ance tak juga ditemukan.
Ayah dan ibunya pun semakin panik karena sudah 4 hari putri tercintanya itu tak pulang. Akhirnya ayah dan ibunya membuat laporan ke Polresta Binjai. “Kami sudah melapor ke Polres Binjai 4 hari setelah putri kami menghilang,” kata Binsar Sinaga saat ditemui POSMETRO MEDAN, Senin (22/2) di rumahnya.
Namun, kata-kata mengejutkan keluar dari mulut ayahnya dan keluarga dekat yang menduga Ance diculik seorang pria yang dikenalnya lewat Facebook. Pasalnya, kata ayahnya, Ance memang sering ke warnet sepulang kuliah dan baru pulang setelah malam mulai larut.
“Tak ada perselisihan antar kami. Dia memang tiap sore kuliah naik kereta. Tapi entah kenapa, Sabtu sore itu dia kuliah tak naik kreta. Memang kami tak melihatnya berangkat kuliah karena kami sedang di ladang. Cuma ada adiknya di rumah ketika itu,” terang ayahnya.
Diterangkan ayahnya lagi, biasa Ance sudah di rumah pukul 9 malam. “Tapi sampai jam dua belas malam kami tak melihatnya pulang ke rumah. Sudah kutanya kepada sanak famili mana tahu melihat anak gadisku itu. Tapi tak ada yang tahu dimana anakku itu. Sampai tak tidur kami memikirkannya. Entah bagaimanalah nasibnya. Padahal dia harapan kami satu-satunya agar jadi ‘orang’,” timpal ibunya, br Sianturi.
Informasi yang dikumpulkan POSMETRO MEDAN dari sejumlah anggota keluarga, Ance memang keranjingan ke warnet bermain Facebook. Kegiatan Facebook itu selalu dilakukannya usai pulang kuliah.
“Saat ditanya kenapa dia sering pulang malam, alasannya sama kami karena dia sering main internet di Kebun Lada. Nah, di situlah kami duga dia berkenalan dengan seorang pria hingga akhirnya mengajak anak kami bertemu,” kata keluarga dekat Ance, br Bakara.
“Memang anak kami itu suka main internet. Kami yang tua-tua itu tak tahu cemana internet itu. Yang aku tahu Ance itu sering mengajar les di rumah-rumah warga. Aku merasa dia ada janjian dengan seseorang. Karena kata anakku, si Ance ada facebooknya. Entah apa namanya itu pokoknya internetlah. Karena memang sering kita dengar anak muda main internet,” terang br Bakara lagi.
Dugaan keluarga bahwa Ance disekap dan diculik sangat kuat. Pasalnya, setelah beberapa minggu menghilang atau tepatnya Minggu (21/2) dua hari lalu, nomor 081372119xxx menghubungi HP ayahnya. Saat dijawab, ternyata Ance yang menelpon. Ance menelpon sambil menangis.
“Aku dengar suara yang menghubungi itu suara anakku. Aku tanya kau di mana inang? Trus dibilangnya, jauh aku pak. Kutanya terus dia dimana. Katanya dia berada di Meulaboh Aceh. Siapa kawanmu di situ. Katanya ada perempuan empat orang,” cerita ayahnya lagi.
Tak puas, ayahnya terus mendesak putrinya itu agar memberitahu posisinya.
“Kasitahulah kau di mana inang. Kalau nggak ada ongkosmu biar kami jemput ke sana. Kek mananya, yang disekapnya kau?” tanya ayahnya penasaran. Tapi tetap tak ada jawaban karena telpon tiba-tiba putus.
Putusnya komunikasi membuat ayah dan ibunya panik. Bahkan, ibunya Reliani br Sianturi sampai jatuh sakit. Namun Senin (22/1) malam sekira pukul 19.07 Wib, HP ayahnya kembali berdering dihubungi nomor 081264829xxx. Ternyata Ance kembali menelpon.
“Saat nelpon yang kedua kali, anakku nanya mamaknya. Mana mamak pak, pulangnya aku… pulangnya aku… Gitu katanya samaku.
Jadi datanglah mamaknya lalu ditanyalah anakku itu. Di mana kau inang, kami dah rindu kali denganmu. Sudah sakit mamak, pulang lah kau inang. Tapi dijawab anakku, nggak tau aku mak di mana aku ini,” kata ayahnya.
“Semalam itulah aku ditelon anakku. Nomornya saat itu 081264829xxx, tapi dia ngomongnya macam tertekan dan sambil menangis. Aku menduga telpon yang dipakai anakku itu milik orang yang menyekapnya,” kata ayahnya. Menghilangnya Ance dari kampus Budidaya di Jl T Amir Hamzah menjadi perbicangan hangat di kalangan mahasiswa dan dosen.
“Ia bang, sudah lama Ance tak terlihat di kampus. Katanya dia diculik. Tapi nggak tahu apakah diculik teman yang dikenalya lewat FB, atau yang lain,” kata seorang mahasiswa semester 2 di kampus itu sembari menambahkan, dosen juga sering menanyakan keberadaan Ance. (aswin)

 

Sumber: Posmetro Medan

BINJAI-FENOMENA patung Dewi Kwan Im menangis juga pernah terjadi di Kota Binjai pada 1971 silam. Tak lama setelah peristiwa gaib tersebut, Kota Rambutan itu dilanda banjir besar.
Peristiwa lampau itu diutarakan Udin (48), warga yang tinggal di perkampungan etnis Tionghoa atau disebut juga Kampung Tanjung Binjai. Patung sakral yang menangis kala itu, berada di Kel Pahlawan Binjai.
“Dalam peristiwa banjir itu, ada beberapa warga yang tewas. Karena pada saat itu, kapal yang digunakan untuk evakuasi korban banjir menghantam Titi Limau Sundai hingga terbalik,” beber Udin.
Kata Udin, karena trauma peristiwa 1971 itulah yang membuat warga begitu heboh dengan kembali munculnya patung Dewi Kuan Im menangis di rumah Avin awal pekan lalu.
Apalagi lanjut Udin, banjir besar Binjai yang terjadi di waktu lampau sangat mengkhawatirkan banyak warga. Sebab air besar yang datang dari gunung, tiba-tiba menghantam pemukiman.
“Kurasa yang tewas namanya Raden Yusuf. Dia dikabarkan tenggelam karena kapalnya menghantam Titi Limau Sundai,” kata Udin yang mengaku tak tahu di mana kini keberadaan patung sakral yang menangis 1971 itu.
Pihak Vihara Dewi Kwan Im saat akan dikonfirmasi terkait cerita masyarakat itu, tidak bersedia memberikan keterangan mendetail. Alasannya, mereka sedang mengadakan kegiatan internal keagamaan.
“Kita nggak bisa menceritakannya sembarangan. Nanti disalahartikan, bisa gawat jadinya. Karena kami di sini ada humas bagian luar yang khusus menerangkan permasalahan itu. Tapi saat ini kebetulan kita ada kegiatan internal keagamaan di Vihara, jadi kita nggak bisa menjelaskan secara detail tentang semua cerita mengenai patung Dewi Kwan Im ini,” terang salah seorang pengurus yang namanya enggan dikorankan.
Apakah tangisan patung Dewi Kwan Im ada kaitannya dengan suhu politik Binjai yang sedang memanas? Pengurus Vihara itu juga tak mau berkomentar. “Oh kita nggak ada membahas permasalahan politik di sini. Kita di sini hanya bersifat keagamaan,” terangnya.
Terpisah Avin (25) warga Jl Anggur, Kel Bandar Senembah, Kec Binjai Barat menyebutkan, patung Dewi Kwan Im yang ada di dalam rumahnya berusia puluhan tahun. Bahkan digunakan turun temurun sebagai patung yang disembah.
Saat membeli, lelehurnya tidak sembarangan. Harus atas petunjuk suhu yang kemudian dijampi-jampi. “Aku sendiri nggak begitu tau. Karena sudah ada sejak aku kecil,” terang Avin yang rumahnya masih saja diramaikan orang-orang yang ingin menyaksikan langsung, meski tak seramai di awal patung itu diketahui menangis.(aswin)

Sumber:Posmetro Medan